Pada sesi 8 ini kita akan belajar tentang e-portofolio dan narasi digital. Materi yang dibahas adalah konsep e-portofolio dan narasi digital serta mempraktikkan pengelolaan e-portofolio dalam berbagai platform termasuk blog/situs pribadi.
Harap Anda baca baik-baik materi inisiasi yang telah diberikan, silakan manfaatkan fitur diskusi, dan kerjakan tes formatif untuk mengetahui pemahaman rekan-rekan mahasiswa terkait materi sesi 8 ini
1. Rumusan Capaian Pembelajaran setelah mempelajari materi Sesi 8
Tujuan Instruksional Umum
Setelah mempelajari modul kedelapan terkait pengelolaan e-portofolio dan narasi digital ini, Mahasiswa diharapkan dapat memiliki pemahaman konseptual dan kontekstual terkait perkembangan media sosial dalam konteks industri media siber, serta aspek manajemen media sosial untuk berbagai tujuan strategis. Selain itu modul ini juga diharapkan dapat memberikan gambaran yang bersifat riil dan praktis mengenai lanskap industri media siber yang terus berkembang.
Tujuan Instruksional Khusus
Secara lebih terperinci, dengan mempelajari modul kedelapan terkait pengelolaan e-portofolio ini, Mahasiswa diharapkan dapat:
- Memahami konsep dasar portofolio
- Menguraikan perkembangan e-portofolio
- Memilih platform yang tepat untuk membuat e-portofolio
- Mempraktikkan konsep pengelolaan e-portofolio di media siber
- Memahami konsep dasar situs pribadi
- Memahami manfaat situs pribadi
- Memahami platform untuk membantu pembuatan situs pribadi
- Mempraktikkan cara pengelolaan situs pribadi
2. Informasi Sumber Belajar Utama (Modul)
Modul 8 dan 9 BMP SKOM 4331 Cyber Media edisi 03dan referensi lain yang relevan
3. Penjelasan singkat materi yang dipelajari
Soal Diskusi 8
Gunakan forum ini untuk berdiskusi dan memberi tanggapan.
Topik diskusi pada sesi ke 8 adalah
Di era media siber seperti saat ini, apakah platform media sosial seperti X, Instagram atau TikTok menjadi tempat yang sesuai untuk e-portofolio profesional kita? Jelaskan pendapat anda disertai contoh kasus dan kemukakan berdasarkan pemikiran Anda. Jangan lakukan copy paste !
Jawab
Nama : Tasir Hidayat
NIM : 048905515
Prodi : Hukum
Matkul : Digital Media FSIK4207
Kelas : 87
UPBJJ : 71/Surabaya
Jawab
Diskusi : Platform Media Sosial Sebagai Tempat E-Portofolio Profesional
Topik: Di era media siber, apakah platform media sosial seperti X, Instagram, atau TikTok menjadi tempat yang sesuai untuk e-portofolio profesional?
Pendapat Utama
Menurut pemikiran saya, platform media sosial seperti X, Instagram, dan TikTok adalah tempat yang SESUAI namun dengan syarat dan batasan tertentu, bukan pengganti penuh, melainkan perluasan atau pelengkap dari e-portofolio utama. Kesesuaian ini sangat bergantung pada jenis profesi, cara pengelolaan konten, dan tujuan profesional yang ingin dicapai. Tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini, jejak digital seseorang menjadi salah satu pertimbangan utama perekrut, mitra usaha, atau klien dalam menilai kredibilitas.
Berikut adalah uraian lengkap pendapat saya, disertai analisis per platform, contoh kasus, dan landasan pemikiran:
I. Alasan Mengapa Platform Ini Sesuai dan Relevan
Di era ekonomi kreatif dan ekonomi berbasis pengetahuan, definisi "portofolio" tidak lagi hanya berupa dokumen PDF atau situs web statis. Portofolio adalah bukti kemampuan, karya, gagasan, dan karakter diri yang dapat diakses publik. Media sosial memiliki keunggulan yang tidak dimiliki portofolio konvensional: jangkauan luas, kemudahan akses, dan sifat interaktif.
1. Analisis Per Platform dan Kesesuaiannya
A. Instagram: Sangat Sesuai untuk Bidang Visual dan Kreatif
Instagram berbasis pada konten visual (gambar, desain, video pendek, infografis). Ini menjadikannya wadah yang sangat tepat bagi profesi yang hasil kerjanya berwujud visual.
- Pemikiran: Portofolio yang baik harus mampu menampilkan hasil kerja secara langsung dan menarik. Jika Anda seorang desainer grafis, arsitek, fotografer, penata rias, atau arsitek lanskap, apa yang lebih baik daripada menampilkan karya asli Anda dalam bentuk galeri yang rapi dan estetik?
- Contoh Kasus:
Seorang desainer grafis independen bernama Rina awalnya kesulitan mendapatkan klien karena belum memiliki modal membuat situs web. Ia mengubah akun Instagram pribadinya menjadi akun profesional, mengunggah hasil desain logo, kemasan produk, dan ilustrasi yang pernah ia buat, lengkap dengan keterangan proses pengerjaannya. Dalam waktu 6 bulan, akunnya dikenal di industri, dan salah satu klien besarnya menemukan jasa Rina secara langsung melalui unggahan di Instagram. Klien tersebut menilai bahwa kualitas karya yang terlihat di Instagram sudah cukup menjadi bukti kemampuan Rina, sehingga ia dikontrak untuk proyek besar.
B. TikTok: Sangat Sesuai untuk Bidang Edukasi, Keterampilan Praktis, dan Kreativitas Dinamis
TikTok sering dianggap hanya sebagai hiburan, namun sebenarnya platform ini sangat kuat sebagai portofolio bagi profesi yang membutuhkan demonstrasi, penjelasan, atau keterampilan teknis.
- Pemikiran: Portofolio tidak hanya berupa hasil akhir, tetapi juga proses kerja dan cara berpikir. Video pendek di TikTok memungkinkan profesional menunjukkan bagaimana mereka bekerja, bagaimana mereka memecahkan masalah, atau membagikan wawasan keahlian mereka. Ini membangun kepercayaan lebih kuat daripada sekadar daftar keahlian.
- Contoh Kasus:
Seorang insinyur sipil bernama Budi membuat konten pendek di TikTok yang menjelaskan prinsip dasar konstruksi, cara membangun bangunan tahan gempa, atau analisis kesalahan bangunan. Awalnya hanya berbagi ilmu, namun kontennya viral dan diikuti oleh ribuan orang termasuk pengembang properti. Budi kemudian dihubungi untuk menjadi konsultan proyek karena pihak pengembang melihat kedalaman pengetahuan dan cara penyampaian Budi yang terstruktur dan benar. Akun TikTok-nya kini menjadi portofolio hidup yang membuktikan ia menguasai ilmunya, bukan sekadar memiliki ijazah.
C. X (Dahulu Twitter): Sangat Sesuai untuk Bidang Strategi, Penulisan, Analisis, dan Kepemimpinan Pemikiran
X adalah platform berbasis teks dan gagasan. Ini adalah tempat terbaik untuk membangun portofolio pemikiran, argumen, analisis, dan jejaring profesional.
- Pemikiran: Bagi peneliti, penulis, konsultan, pengacara, pemasar, atau pemimpin bisnis, kemampuan berpikir kritis dan menyampaikan gagasan adalah modal utama. Di X, setiap utas (thread) atau tulisan panjang yang Anda buat adalah bukti cara Anda menganalisis masalah, mengolah data, dan menyampaikan solusi. Ini adalah portofolio intelektual yang sangat berharga.
- Contoh Kasus:
Seorang ahli strategi pemasaran bernama Dito rutin menulis analisis mendalam mengenai tren pasar digital dan perilaku konsumen di X. Tulisan-tulisannya sering dibagikan dan menjadi rujukan di industri. Ketika sebuah perusahaan teknologi besar sedang mencari Kepala Pemasaran, mereka tidak hanya melihat CV formal Dito, tetapi juga merujuk pada ratusan tulisan yang ia buat di X selama 3 tahun terakhir. Bagi perekrut, tulisan-tulisan itu adalah bukti nyata kemampuan analisis dan wawasan Dito yang tidak bisa dipalsukan dalam wawancara biasa.
2. Batasan dan Risiko: Mengapa Tidak Bisa Menjadi Satu-satunya Tempat?
Meskipun sesuai, saya menekankan bahwa media sosial bukanlah pengganti mutlak, melainkan pelengkap. Ada alasan mengapa kita tetap harus berhati-hati:
1. Kurangnya Formalitas dan Struktur: Media sosial berjalan secara kronologis. Karya terbaik Anda bisa terkubur oleh unggahan baru atau hilang karena algoritma berubah. Berbeda dengan situs web atau dokumen portofolio yang disusun rapi dan abadi.
2. Risiko Reputasi: Satu komentar atau unggahan pribadi yang tidak bijak bisa merusak seluruh kesan profesional. Batas antara kehidupan pribadi dan profesional sering kali kabur di media sosial.
3. Tidak Universal: Untuk profesi tertentu seperti akuntansi hukum, medis, atau administrasi pemerintahan, media sosial kurang relevan dan bahkan dianggap tidak pantas jika terlalu terbuka.
Contoh Kasus Negatif:
Seorang arsitek muda memiliki karya luar biasa di Instagram, namun ia sering mengunggah komentar yang kasar atau tidak sopan terhadap pendapat orang lain di kolom komentar. Meskipun karyanya bagus, sebuah perusahaan arsitektur besar membatalkan tawaran kerja sama karena menilai perilaku di media sosial mencerminkan karakter yang sulit diajak bekerja sama.
II. Pendekatan Pemikiran : Portofolio sebagai "Jejak Kepercayaan"
Berdasarkan pemikiran saya, konsep portofolio di era digital telah bergeser dari "bukti hasil kerja" menjadi "bukti kepercayaan".
- Di masa lalu, portofolio hanya perlu menunjukkan apa yang sudah Anda buat.
- Di masa kini, portofolio juga harus menunjukkan siapa Anda, bagaimana cara Anda berpikir, dan bagaimana Anda berinteraksi dengan orang lain.
Media sosial sangat efektif menjawab kebutuhan kedua ini. Algoritma media sosial justru membantu kita mempertemukan keahlian kita dengan orang yang membutuhkannya, sesuatu yang sulit dilakukan dengan portofolio konvensional yang hanya dikirimkan saat ada lowongan kerja.
Namun, prinsip utamanya adalah Pemisahan dan Pengelolaan. Akun yang digunakan untuk portofolio profesional harus dikelola dengan standar profesional: konsisten, relevan, rapi, dan bebas konten yang berpotensi menimbulkan kesalahpahaman.
III. Kesimpulan :
Berdasarkan diskusi dan analisis di atas, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Kesesuaian: Platform media sosial seperti X, Instagram, dan TikTok adalah tempat yang sesuai dan sangat efektif untuk dijadikan bagian dari e-portofolio profesional, terutama bagi generasi muda dan pekerja di bidang kreatif, jasa, teknologi, dan pengetahuan. Kesesuaian ini didasarkan pada kemampuan platform tersebut menampilkan karya secara visual, dinamis, dan interaktif, serta mampu menjangkau jaringan yang jauh lebih luas dibandingkan cara konvensional.
- Instagram cocok untuk karya visual dan desain.
- TikTok cocok untuk demonstrasi keterampilan, edukasi, dan kreativitas.
- X cocok untuk portofolio gagasan, analisis, dan kepemimpinan pemikiran.
2. Syarat Utama: Kesesuaian tersebut berlaku hanya jika dikelola secara profesional, konsisten, dan memisahkan konten pribadi dengan konten pekerjaan. Media sosial harus berfungsi sebagai "jendela" yang mengarahkan orang ke portofolio utama (seperti situs web resmi atau dokumen lengkap), bukan menjadi satu-satunya wadah penyimpanan karya.
3. Pandangan Akhir: Di era media siber, ketiadaan jejak digital profesional justru bisa menjadi kelemahan. Mengelola media sosial sebagai e-portofolio adalah strategi cerdas untuk membangun kepercayaan, mempromosikan keahlian, dan membuka peluang karir yang lebih luas, asalkan dilakukan dengan bijak, etis, dan terstruktur.
IV. Sumber/Referensi Jawaban :
1. Kaplan, A. M., & Haenlein, M. (2010). Users of the world, unite! The challenges and opportunities of Social Media. Business Horizons, 53(1), 59-68.
- Penjelasan: Menguraikan bagaimana media sosial mengubah cara komunikasi dan presentasi diri dalam dunia profesional.
2. Kementerian Komunikasi dan Informatika RI. (2023). Panduan Literasi Digital: Membangun Jejak Digital Positif. Jakarta: Kemkominfo.
- Penjelasan: Menekankan pentingnya jejak digital sebagai identitas diri dan aset profesional di ruang siber.
3. Carr, D. (2021). The New Portfolio: How Social Media Has Changed Creative Hiring. Forbes Magazine.
- Penjelasan: Artikel yang membahas bagaimana perekrut modern kini memprioritaskan profil media sosial dan karya digital dibandingkan dokumen fisik.
4. Dewan Pers. (2022). Etika Bermedia Sosial bagi Profesional.
- Penjelasan: Mengatur batasan dan etika agar media sosial tetap menjadi sarana positif dan tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain.
6. BMP SKOM4331 CyberMedia Modul 08 Pengelolaan E-Partfolio Kunto Adi Wibowo Detta Rahmawan Penerbit UT tanggerang selatan,

Tidak ada komentar:
Posting Komentar