SIANG itu cukup terik. Kegiatan tidur siang seusai salat Duhur
mungkin jadi pilihan pertama bagi kebanyakan orang. Namun tidak demikian dengan
santri Pondok Pesantren Roudlotul Nikmah.
Puluhan santri justru terlihat
sedang menyimak sebuah kitab berwarna kuning. Dipimpin seorang santri senior,
mereka belajar kitab-kitab klasik tak berharokat di sebuah pesantren tak begitu
luas di Jalan Supriyadi, Tlogosari, Semarang.
Suara gaduh layaknya orang
belajar, terasa menyejukkan hati siapa pun yang mendengarnya, seolah
membuktikan bahwa keberadaan puluhan santri itu memang untuk menuntut ilmu
agama. Uniknya, di pintu masuk pesantren itu justru terlihat papan nama
penunjuk persewaan alat-alat pesta, seperti meja kursi dan tenda.
Ternyata benar. Selain menampung
santri untuk belajar agama lebih mendalam, pesantren Roudlotul Nikmah juga
menyewakan alat-alat pesta. Menurut pengasuh Ponpes, KH Drs Mohammad Ali Shodiqin,
banyaknya santri yang harus ‘dihidupinya’ membuat pengelola harus berpikir
kreatif.
Jika hanya mengandalkan sodaqoh
dari para dermawan, maka biaya operasional bulanan tidak akan pernah tercukupi.