Senin, 13 Mei 2013

Al-Habib Taufiq bin Abdul Qadir Assegaf


sesungguhnya ahlul kubur, orang-orang yang meninggal itu satu sama lain saling berziaroh. kalau ada orang yang baru mati, ahlul kubur yang lainnya itu datang kepada dia. mereka tanya “gimana keluargaku ? gimana anak-anakku ? gimana harta-hartaku? rumah dan yg lain-lainnya.” kalau dia mendapatkan khabar yang bagus. anak kamu sholeh, harta kamu manfaat rumah kamu dipenuhi dengan ibadah, seneng dia. tapi kalau dia tadi itu mendapatkan khabar anak kamu pemabuk, anak kamu berzina, rumah kamu dibuat untuk maksiat, harta kamu dibuat yang tidak-tidak, maka dia pasti akan susah. Ini kalau orang yang mati adalah orang yang baik, maka diziarohi oleh ahulul kubur yang lainnya. adapun ahlul kubur yang di adzab oleh Allah, sudah tidak bisa tanya apa-apa. ia akan merasakan siksa.

dikatakan oleh Sayyid Sathoq dalam kitabnya Ya Ayatun Tolibin bahwa Rasulullah SAW menerangkan “arwahnya orang mu’minin itu, setiap malam turun kedunia, persis diatas rumahnya, kemudian dia selalu mengingatkan dengan suara yang sangat menyedihkan, seribu kali setiap malam. mengingatkan begini wahai keluargaku, wahai kerabatku, wahai anakku, wahai yang tinggal ada dirumahku, wahai yang sekarang memakai pakaianku, wahai orang-orang yang telah mengambil bagian daripada hartaku,.. masihkah kamu mengingat aku, masihkah kamu memikirkan aku… aku sekarang ada dipenjara yang sangat lama.. aku sekarang dalam keadaan susah.. bantulah aku.. hiburlah aku.. semoga engkau mendapatkan rahmat… jangan kamu bakhil.. jangan kamu kikir.., kepada kami… sebelum engkau menjadi nasibnya seperti kami.. wahai hamba Allah.. ketahuilah… sekarang harta yang ada ditanganmu dahulu ada ditanganku… rumahmu yang kamu tempati, dahulu menjadi rumahku… kami tidak menginfakkan untuk fisabilillah.. akhirnya kami sekarang menanggung hisabnya.. kami menanggung malapetaka nya.. manfaat daripada hartaku, rumahku dan aku miliki ternyata dinikmati oleh yang lainnya. karena itu.. janganlah sampai ruh kamu,.. kembali kepada Allah SWT.. tidak membawa sesuatu bekal daripada yang kamu miliki sekarang,.. jika demikian, maka kamu pasti akan menjadi orang yang menyesal nantinya”
diriwayatkan juga bahwa Rasulullah SAW bersabda “mayyit itu dikuburannya bagaikan orang yang mau tenggelam di samudera lautan. yang ditunggu siapa yang akan menolong dan akan mengentas dia.. begitu juga mayyit, yang ditunggu adalah doa daripada anaknya,. doa daripada saudaranya,. daripada temannya,.. kalau dia mendapatkan doa,.. didoakan daripada yang masih hidup,.. maka dia, lebih senang daripada dikasih dunia seisinya… karena memang amalnya mayyit “Muqqotik” amalnya mayyit itu terputus, mayyit tidak bisa baca, mayyit tidak mendapatkan pahala bacaan al-quran, tidak mendapatkan pahala sholat, karena itu ibadah daripada yang hidup,.. jika diberikan, dihadiahkan kepada yang mati… baik orangtua nya, ayah Ibu nya, datuk-datuknya, nenek-neneknya, semuanya, teman-temannya, siapapun yang punya hak baginya.,, maka kemurahan Allah adalah sangat luas akan disampaikan oleh Allah SWT. Dan Allah Maha Tahu bahwa kita adalah orang yang tidak ingin kehilangan pahala, tetap pahalanya dicatat untuk kita dan juga disampaikan untuk mereka semuanya tanpa mengurangi pahala yang telah diberikan kepada kita.
ketahuilah bahwa, menghadiahkan amal kepada mayyit itu adalah benar-benar nyata.. dan sampai.
dihikayatkan di sini bahwa ada seorang pemuda yang dia tadi itu terkenal Mukashif. Suatu saat pemuda ini diundang, diajak untuk makan bersama. Sudah dekat sama makanan, kemudian dia kelihatan susah,. tidak mau makan. Ditanya “ayo makan.. makan kamu” kata dia.. engga kata dia… nggak mungkin aku bisa makan sekarang karena aku mengetahui bahwa ibuku diadzab sekarang ada dikubur. Akhirnya,.. salah satu diantara yang hadir tadi itu mengetahui “wah ini.. pemuda ini beneran atau ngarang ini, si pemuda ini omongannya ini” tapi terkenal itu pemuda Mukashif..
Ia membaca lailla ha ilallah.. 70.000 kali.. dan diriwayatkan siapa membaca 70.000 kali lailla ha ilallah maka itu akan menjadi fidak daripada neraka, tebusan daripada adzab Allah SWT..
tanpa mengetahui.. si pemuda tadi itu. ini orang punya bacaan lailla ha ilallah 70.000 kali,,.. maksudnya untuk dihadiahkan kepada seseorang.. dirubah sama dia.. saya hadiahkan untuk Ibu nya.. tidak lama kemudian pemuda itu bangkit daripada tempat tidurnya mendekati makanan, makan. ditanya, “lho.. katanya ente tadi.. Ibu ente diadzab.. ente gak bisa makan.. ” , “enggak Alhamdulillah,.. sekarang Ibu ana dipindah udah… ada yang ngasih pahala kata dia.. “Ibu ana dipindah sekarang dari adzab menjadi dalam keadaan nikmat sekarang.. ”
Nah itu, ini adalah salah satu gambaran bahwa orang tua kita ini menunggu amalan kita,.. jangan sampai orang tua kita ini ternyata mengetahui kita bermaksiat kepada Allah SWT..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar